Membeludak! Kasus Covid-19 di India Jangan Sampai Terjadi di Indonesia. Lakukan Hal Ini untuk Mencegahnya!

Pandemi covid-19 belum juga surut. Bahkan di beberapa belahan dunia, penularan covid-19 makin menjadi-jadi. Di India misalnya, jumlah kematian korban covid-19 menyentuh angka 208 ribu jiwa. Sedangkan setiap hari muncul sekitar 379 ribu kasus baru. Sehingga sampai hari ini tercatat 18,7 juta orang yang terpapar virus corona-19.

Peningkatan angka korban covid 19 ini terjadi lantaran adanya kesalahan kebijakan. Pemerintah India lengah, dan memberikan kelonggaran bagi warganya untuk berkumpul atau berkerumun.

Situasi di India ini dapat saja terjadi di belahan mana pun. Tak pelak Badan Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti agar penanganan covid-19 harus tetap dilakukan. Protokol kesehatan musti benar-benar berjalan secara ketat, dan tidak perlu ada kelonggaran.

“Saat penanganan proteksi personal dilonggarkan, ketika ada kumpulan massa, maka ada lebih banyak varian menular dan cakupan vaksinasi yang masih rendah dapat membuat badai seperti ini di manapun,” kata Kepala WHO Eropa, Hans Kluge.

Guna merespon imbauan WHO, sudah sepatutnya warga dunia, termasuk Indonesia, menyadari pentingnya pemberlakuan prokes secara ketat oleh pemerintah, dan dibarengi oleh kesadaran warganya melakukan pemeriksaan.

Ada beberapa metode pemeriksaan covid-19 yang sudah populer.  Satu di antaranya PCR (polymerase chain reaction). PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Supaya mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat, memang membutuhkan proses dan waktu lebih lama. Pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus Corona. Kemudian sampel ini dikirim dan diteliti di laboratorium.

Dari sanalah kemudian covid-19 yang merupakan virus RNA harus diubah lebih dulu menjadi DNA. Proses ini dilakukan dengan menggunakan enzim reverse-transcriptase. Sehingga teknik pemeriksaan ini dikenal dengan sebutan reverse-transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).

Setelah proses perubahan ini, barulah alat PCR  melakukan amplifikasi atau perbanyakan materi genetik sehingga bisa terdeteksi. Jika mesin PCR mendeteksi RNA virus Corona di sampel dahak atau lendir yang diperiksa, maka hasilnya dikatakan positif.

Hasil pemeriksaan inilah yang menjadi bahan pertimbangan setiap individu untuk melakukan tindakan pencegahan penularan covid-19 secara bijak. Dengan begitu, semoga gelombang covid-19 seperti yang terjadi di India tidak perlu berulang di negeri tercinta ini.